Seputar Investasi Berlian

1480401661_3b8d31b11f

Investasi Berlian

APA yang menyebabkan seseorang tertarik untuk membeli perhiasan? Jawabannya bisa bermacam-macam. Bisa untuk keperluan penampilan (fashion), koleksi (hobi), ataupun untuk investasi. Gaya hidup perempuan mapan dalam memilih perhiasan memang sangat beragam.
Bagi Ninna Hilman, pemakai sekaligus kolektor perhiasan jenis bebatuan, perhiasan sangat erat kaitannya dengan selera. Unsur “art” dari perhiasan menurut Ninna, tidak bisa dipisahkan dari karakter si pemakai.
Oleh karena itu, perhiasan baginya ibarat pakaian yang menyatu dengan kepribadian. Dibeli karena punya nilai dan tidak untuk dijual lagi. “Semakin klasik, pasti semakin mahal. Makanya, saya tidak pernah membeli perhiasan untuk dijual lagi,” jelasnya.
Bagi Ninna Hilman, keunikan dan desain menjadi hal utama. “Kalaupun harganya mahal tetapi desainnya biasa-biasa, saya tidak akan membelinya,” akunya seraya menyebutkan, dirinya harus berdialog panjang lebar terlebih dahulu bila akan membeli sebuah perhiasan. “Ini saya lakukan karena membeli perhiasan buat saya, bukan asal suka. Tetapi harus sesuai dengan karakter saya,” ujarnya lagi.
Berbeda dengan Ninna, ibu-ibu muda Bandung yang tergabung dalam arisan “Tempo-Tempo”, mengaku membeli perhiasan tidak semata-mata untuk penampilan, tetapi untuk investasi.
Arisan yang beranggotakan ibu-ibu socialite (kalangan terkemuka) ini, salah satu kegiatannya adalah jual beli berlian. Selain sebagai pemakai, ada juga yang menjadi penjual, bahkan pialangnya juga ada. “Kalau disebut pialang kok risi ya, mungkin perantara saja,” ujar ibu Hermin yang sering mempertemukan antara penjual dan pembeli berlian.
Menurut ibu Hermin, investasi berlian tidak akan rugi karena selain bisa dipakai, disimpan, juga dapat dijual. Harga jualnya pun bisa berlipat. Bila saat membeli harganya Rp 10 juta, setahun kemudian dapat dijual dengan harga Rp 15 juta.
“Harga berlian juga sudah semakin terjangkau. Terutama untuk ibu-ibu anggota arisan ini, mereka dapat membeli berlian dengan sistem angsur,” ujar Hermin yang kerap membeli berlian dari Belanda dan Amsterdam.
Sementara itu, disampaikan Linayanti Dewi dari Marketing Manager Felice Jewellery, skala konsumen yang menggunakan berlian untuk investasi lebih kecil dibandingkan untuk fashion. “Jumlah konsumen yang benar-benar membeli perhiasan untuk investasi, biasanya mereka yang berasal dari kelompok menengah ke atas,” jelasnya.
Usia konsumennya pun, menurut Lina, berusia separuh baya atau berkisar dari 40 tahun ke atas. Umumnya, mereka membeli berlian secara lepas. Artinya, tidak membeli langsung satu set perhiasan. Sebaliknya, dari berlian yang dibelinya, mereka dapat menentukan sendiri bentuk perhiasan yang diinginkannya. Bisa untuk sebuah cincin, kalung, liontin, atau perhiasan lainnya.
“Untuk investasi, biasanya mereka langsung datang dan membeli saat ada pameran perhiasan. Karena, jumlah berlian yang dijual lepas sangat dibatasi jumlahnya sehingga baru ada ketika pameran saja,” tambah Lina seraya mengatakan berlian yang dijual tersebut memiliki sertifikat internasional sehingga nantinya dapat dijual kembali.
Sedangkan dalam kacamata Mellisa Siswanto dari Goldmart, tren masyarakat yang menggunakan perhiasaan khususnya emas, fifty-fifty. Artinya, 50 % untuk keperluan fashion dan sisanya untuk keperluan investasi.
“Semakin ke atas golongan masyarakatnya, maka semakin tergerak untuk mengoleksi perhiasan sebagai investasi,” jelas Mellisa.
Tujuan masyarakat membeli perhiasan memang bermacam-macam. Meski demikian, Poppy P. Hayono Isman dari Handara Jewellery menganjurkan, sebaiknya membeli perhiasan bukan hanya untuk keperluan fashion tetapi juga untuk investasi. Hal ini kata Poppy, bisa menjadi semacam pemberdayaan kaum perempuan. Karena belanja perhiasan, tidak lagi sekadar menghambur-hamburkan uang, tetapi untuk mendatangkan uang. “Itu saran yang selalu saya sampaikan, tetapi keputusannya kan kembali lagi kepada pemakai,” ujarnya.
Tren bergulir
Tren perhiasan yang digandrungi sepanjang tahun 2005 sampai 2006 mendatang, adalah perhiasan dengan batu besar. “Apakah perhiasan itu material pokoknya bebatuan, emas, perak, ataupun berlian, pokoknya yang berbatu besar,” ujar Hermin dan Poppy.
Para pemakai perhiasan ini utamanya kaum perempuan mapan berusia 30 tahun ke atas. Dulu, perhiasan batu besar hanya diminati ibu-ibu pejabat sebagai bagian dari fashion. Tetapi sekarang diminati oleh hampir semua kalangan yang mengerti perkembangan fashion.
Sedangkan menurut Poppy, tren perhiasan sama halnya dengan tren mode yang terus bergulir dari tahun ke tahun. Tren ini tidak pernah berhenti tetapi terus berubah, bahkan ada kalanya kembali ke masa lampau. “Itulah dinamikanya mode, ada kalanya kembali ke masa tahun 60-an, kontemporer, atau lainnya,” jelas dia.
Bila ditinjau dari materialnya, perhiasan berasal dari berbagai ragam bahan. Ada bebatuan, emas, sampai berlian. Menurut Menawati Sudiarta dari Davinci Jewellery, jenis bebatuan terdiri dari cubic zirconia, honey jade, jade, moonstone, jasper, pearl (fresh water pearl), ametyst, citrine yellow, dll. Sedangkan desainnya berupa tears drop, oval, solitaire, heart, prisma, around, ataupun mix antara beberapa material yang berbeda. Seperti berlian potong yang di mix dengan mas putih atau honey jade, dll.
Yang menentukan mahal dan tingginya nilai perhiasan batu, kata Mena, dapat dilihat dari warna, desain, cutting, dan shinning (kilau) yang dipancarkannya. Semakin banyak cutting akan semakin menentukan shinning batu. Sedangkan untuk desain, lebih banyak berhaluan pada desain-desain dari Italia karena Davinci memang berasal dari negara tersebut.
Perhiasan bebatuan, kata Mena, lebih banyak dibeli untuk keperluan fashion dan koleksi. Ada juga yang membelinya untuk gift yang diberikan khusus untuk saat-saat spesial. “Tapi kalau untuk dijual lagi, rasanya tidak ada. Karena perhiasan batu, memang dijual dengan sistem putus,” jelasnya.
Sedangkan untuk perhiasan berlian, Hermin menjelaskan, kualitas suatu berlian ditentukan dengan rumusan 4C, yaitu carat (karat), color (warna), clarity (kejernihan), dan cut (potongan). “Kita harus merawat berlian agar tetap terjaga kualitasnya. Salah satunya jangan menyimpan berlian dalam keadaan telanjang (tanpa pembungkus),” ujarnya.
Untuk investasi, kata dia, tentu saja akan sangat baik memilih berlian dengan karat besar. Tapi, tentu saja berlian dengan ukuran besar amat sulit mendapatkannya. “Ibu saya almarhumah pernah mempunyai berlian 11 karat dan itu dicari banyak orang,” imbuhnya.
Warna berlian yang paling populer, kata Hermin, adalah warna putih, sedangkan berlian yang tidak berwarna (colorless, icy white) bernilai paling mahal. Harga berlian yang berwarna warni (fancy) akan ditentukan oleh kedalaman warna.
Clarity adalah efek berpendarnya cahaya melalui berlian (sparkle). Kotoran, ketidakteraturan permukaan, gelembung udara, dan cacat (inclusion) pada berlian dapat menghambat berpendarnya cahaya. Ini akan menurunkan nilai berlian. “Pembesaran 10 kali lipat bisa mendeteksi ketidaksempurnaan dari berlian ini,” sambungnya.
Sedangkan pemotongan berlian dilakukan dengan formula tertentu. Pada umumnya berbentuk bulat dan terdiri dari 58 facets (muka) untuk dapat merefleksikan cahaya. Hasil pemotongannya akan menentukan nilainya.
Nah, berbekal pengalaman ini, kini Anda tinggal menentukan, apakah perhiasan yang Anda beli sekadar untuk fashion, koleksi, atau investasi. Kenapa enggak, selain gaya bisa kaya juga kan?!

(Eriyanti/Ari Dwi/”PR”)***
Dikutip dari Pikiran Rakyat edisi Sabtu, 04 Februari 2006

Tinggalkan Balasan